Mengharamkan Metal, Menghalalkan Musik Vulgar

Metal dan singer vulgar


Inilah salah satu wajah Indonesia yang terasa janggal, tapi sering dianggap biasa.


Rock dan metal sering dicap sebagai musik keras, liar, bahkan tidak jarang langsung diberi label “musik setan” oleh sebagian tokoh agama. Tidak banyak yang mau benar-benar mendengar atau memahami lebih dalam. Cukup dari suara yang menghentak dan tampilan yang tidak biasa, penilaian sudah dijatuhkan.


Memang, dalam setiap genre musik, termasuk metal, selalu ada pro dan kontra, terutama dalam liriknya. Tidak semua lagu membawa pesan yang tidak baik, dan tidak semua juga layak dijadikan konsumsi tanpa batas. Tapi bukankah hal yang sama juga berlaku untuk genre lain?


Kalau mau jujur, banyak musik metal justru menyuarakan hal-hal fakta di dunia: ketidakadilan, kritik sosial, realitas pahit kehidupan, bahkan keresahan yang tidak ada tempat untuk bisa disampaikan. Ia berbicara dengan cara yang keras karena realitas yang dihadapi pun tidak selalu lembut.


Namun karena alunan ritme musik yang tidak nyaman bagi telinga sebagian orang, isinya tidak pernah benar-benar diberi kesempatan.


Tetap saja, bagi sebagian orang—terutama mereka yang mengatasnamakan agama—musik seperti ini dianggap haram. Tanpa melihat konteks, tanpa mempertimbangkan isi, tanpa mencoba memahami sudut pandang yang berbeda.


Di sisi lain, ada jenis musik yang secara lirik dan penampilan justru mengandung unsur vulgar atau sensual, alunan bikin bergoyang dan pakaian minim juga seksi menonjolkan sensualitas tubuh atau eksploitasi fisik yang mencolok saat bergoyang tetapi lebih mudah diterima karena sudah terasa familiar di masyarakat.


Perlu jujur di sini: tidak semua musik dangdut seperti itu. Banyak juga dangdut yang sederhana seperti dangdut atau grup band dangdut lawas, bahkan penuh nilai dengan moral di setiap lirik dan penampilan diatas panggungnya. bahkan ada salah satu tokoh atau penciptanya disematkan sebagai raja dangdut. 


Tapi dalam setiap penampilannya di atas panggung, tidak sedikit juga ada oknum yang menampilkan lirik dan pertunjukan yang mengarah pada hal-hal yang kurang pantas.

Panggung disiapkan, lampu dinyalakan, dan penampilan yang ditawarkan sering kali mengandung unsur sensualitas. Liriknya ringan, mudah diingat, tapi juga kerap membawa pesan yang dangkal atau bahkan tidak senonoh.


Penonton larut, ikut menikmati dan bergoyang, bahkan memberi saweran sebagai bentuk apresiasi. Semua itu berlangsung tanpa banyak pertanyaan.


Ironisnya, hal-hal seperti ini tetap dianggap wajar, Bahkan di pesta rakyat bahkan di acara keagamaan.

Seolah-olah tidak ada yang perlu dipermasalahkan.


Padahal, jika standar yang digunakan benar-benar konsisten, seharusnya hal-hal seperti ini juga layak dikritisi.


Di sinilah letak kejanggalannya.

Yang satu ditolak karena terdengar asing dan keras.

Yang lain diterima karena terasa akrab yang membangkitkan gairah nafsu, meski isinya bisa dipertanyakan.


Ini bukan lagi soal musik. Ini soal cara berpikir.

Manusia cenderung curiga terhadap hal yang tidak mereka pahami, dan cenderung memaklumi hal yang sudah mereka kenal, bahkan ketika keduanya memiliki sisi yang sama-sama bermasalah.


Standar yang digunakan bukan lagi prinsip, tapi kenyamanan.

Dan ketika agama masuk ke dalamnya, sering kali ia tidak lagi menjadi panduan yang objektif, tapi alat pembenaran atas apa yang sudah disukai sejak awal.


Label “haram” menjadi mudah diucapkan untuk sesuatu yang asing, sementara untuk hal yang sudah akrab, kita menjadi jauh lebih toleran.

Padahal, jika ditarik lebih dalam, pembahasan tentang musik dalam Islam sendiri tidak sesederhana hitam dan putih. Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang melihat dari sisi liriknya, ada yang mempertimbangkan dampaknya terhadap perilaku, dan ada juga yang melihat dari konteks penggunaannya.


Artinya, tidak sesederhana mengatakan bahwa musik keras itu pasti salah, dan musik yang menghibur itu pasti benar.


Tapi sayangnya, banyak orang memilih jalan yang paling mudah: menilai dari permukaan.

Yang keras dianggap berbahaya.

Yang mengundang nafsu dianggap tidak masalah.


Padahal, keduanya sama-sama bisa membawa dampak, tergantung bagaimana seseorang menyikapinya.

Di titik ini, saya mulai bertanya: sebenarnya yang dinilai itu apa? Musiknya, atau kebiasaan kita terhadap musik tersebut?

Karena yang terlihat jelas adalah adanya standar ganda.


Hal yang dianggap tidak pantas dalam satu konteks, bisa menjadi hiburan biasa dalam konteks lain. Hal yang dikritik di satu tempat, bisa dikecam di tempat lain, hanya karena bentuknya berbeda.


Saya sendiri memilih tetap pada selera masa remaja saya: metal, rock. Bukan karena ingin berbeda, tapi karena saya menemukan sesuatu di dalamnya.

Ada kejujuran.

Ada kritik.

Ada realitas yang tidak ditutup-tutupi.

Musik-musik itu tidak selalu nyaman, tapi justru di situlah nilainya. Ia memaksa untuk berpikir, bukan sekadar menikmati.


Dan bagi saya, itu jauh lebih berarti daripada sekadar hiburan tanpa arah.

Meski begitu, pilihan ini tidak selalu diterima. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif, bahkan ada yang dengan ringan melabelinya sebagai “musik setan”.


Sebuah label yang terasa berlebihan, jika melihat kenyataan bahwa banyak dari mereka yang memberi label tersebut justru menikmati musik dengan lirik tidak senonoh dan penampilan vulgar, selama itu terasa familiar bagi mereka.


Lucu, tapi juga menyedihkan.

Karena pada akhirnya, yang kita lihat bukanlah penilaian yang adil, tapi penilaian yang dipengaruhi oleh kebiasaan dan selera.

Dan mungkin, yang perlu kita periksa bukanlah jenis musik yang kita dengarkan.

Tapi cara kita menilai sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah kita anggap normal.


---

🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leon S. Kennedy dan Ada Wong: Hubungan Rumit yang Tidak Pernah Selesai

Jangan Hanya Jadi Katak di Kolam Kecil: Saatnya Tumbuh ke Danau yang Lebih Luas

Logika Mistika di Indonesia: Antara Warisan Budaya dan Minim Literasi

Mengenal Istilah Flying Monkey di Era Sekarang

Memahami Makna Cinta: Saat Logika & Intuisi Bicara

5 Tanda Lingkungan Toxic: Kenali Tandanya dan Jaga Mentalmu Sejak Dini"

“Kekuatan Logika dan Intuisi: Berpikir dalam Diam, Menemukan Jalan yang Tak Terlihat”