Bukan di Santet Tapi Permainan Psikologis
Bagi yang paham saja. Ini bukan karangan halu, tapi fakta yang sering terjadi dan dialami semua orang. Banyak yang masih mempercayai mistis untuk membuat orang percaya, padahal itu adalah trik psikologis kotor. Jika kita bisa melihat setiap kejadian dan pola dalam kehidupan, kita pasti langsung bisa menyadarinya.
Ada yang bilang, “dia dulunya tampan/cantik” atau “dia dulunya makmur dan bahagia, tapi setelah terkena santet dia jadi begitu.” Tentu ini sudah menjadi obrolan umum di setiap masyarakat. Nyatanya, itu adalah trik psikologis yang sudah direncanakan. Seperti artikel yang pernah saya buat sebelumnya, dan mungkin bagi pembaca sudah lupa.
Contoh: dalam keseharianmu, entah disengaja atau tidak, pasti ada orang yang tidak menyukaimu. Entah kamu tidak menyadari pernah menyakitinya, atau memang orang itu yang bermasalah, tidak suka tanpa alasan, atau tidak ingin melihatmu maju. Orang seperti ini akan selalu menerormu dan mengganggu dengan berbagai cara, agar mental dan psikologismu terganggu, membuatmu gila atau terlihat gila, dan membuat hidupmu berantakan.
Dari yang awalnya senang dan bahagia menjadi terasa hampa dan insecure. Dari dirimu yang terlihat rapi, bersih, dan pandai merawat diri menjadi tidak mengurus diri dan terlihat acak-acakan. Dari yang disiplin menjadi tidak fokus.
Dan jika kamu mengetahui siapa pelakunya, lalu mencoba menangkap atau melawan yang menerormu, mereka akan celingak-celinguk, berpura-pura tidak tahu, dan seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka akan menekanmu dengan cara menasihati, seperti “mungkin kamu ada masalah,” dan membuatmu terlihat seperti sudah gila. Padahal, di balik topeng itu, mereka tahu siapa pelakunya.
Jika kamu sudah kena mental dan hampir depresi, mereka akan mengirimkan seseorang untuk menyebarkan gosip di tengah masyarakat atau orang terdekatmu, untuk menyampaikan pembenaran seperti, “mungkin dia sudah kena santet, makanya begitu.” Padahal itu adalah hasil rekayasa psikologis yang membuat dirimu tertekan dan menjadi gila sendiri.
Pengalaman pribadi: beberapa minggu terakhir di bulan Ramadhan kemarin, saya yang baru pulang membeli pakan kucing dari toko sebelah sekolah SMA 1, dalam perjalanan pulang ke tempat kerja pada malam hari saat tarawih, ada dua anak kecil yang menaruh petasan/mercon di tengah jalan menunggu ku melintasi jalan yang ditaruh petasan/mercon tadi dan sontak petasan nya tepat meledak di bawah motor saya. Hal itu membuat saya kaget, kehilangan keseimbangan, dan hampir membuat saya jatuh atau celaka di jalan lapangan bola Kampung Pait Jaya.
Sempat saya emosi dan mengitari dua kali untuk mencari dua anak kecil tersebut, yang panik lalu lari ke area hutan samping toko kampung pait jaya yang sering saya kunjungi.
Bagi para pembenci saya, kejadian ini seolah menjadi kelemahan saya karena menggagap saya pasti risih dan mengganggu ketenangan ku saat mendengar letusan dan bisa membuat saya marah.
Dan akhirnya beberapa hari terakhir, Ada yang datang sengaja memainkan petasan di malam hari dekat tempat saya bekerja. Entah itu suruhan atau memang pelaku itu sendiri yang melakukan, yang mengharapkan saya keluar untuk marah. Dan itu adalah ciri teror psikologis yang mereka pikir akan membuat saya terpancing.
Kenyataannya, yang membuat saya marah adalah karena hampir mencelakai saya. Karena dua anak kecil tadi. tapi jika ditanyai pasti tidak akan mengakui, dan orang dewasa lebih percaya pada anak di bawah umur.
Dan saya sengaja mendiamkan tindakan tersebut agar peneror capek sendiri dan kehabisan akal atau kehabisan uang. Yang terpenting, mereka akan terus menunjukkan sifat rendah dan berperilaku seperti anak kecil tanpa sadar, dan saya hanya perlu melihat pola perilaku mereka sebagai catatan atau referensi tulisan saya.
Jika diteliti, jika orang dewasa ingin menyalahkanku atas kejadian yang ku alami pada malam itu. coba pikirkan anak kecil yang mencuri buah di kebun pun tidak akan mengaku. Mereka akan menangis atau panik (kededap), dan orang dewasa akan merasa kasihan lalu membela mereka, dan justru menyalahkan kita.
Apakah ini pembenaran dan pembelaan saya? Ya, ini murni pembelaan saya yang sampai mengetikan kata kasar terhadap oknum. Jika orang tua mereka dan orang lain membenci saya, bagaimana jika saya melakukan hal yang sama? Kalian orang dewasa berjalan menggunakan motor, lalu saya menaruh jebakan seperti dua anak tadi dan membuat kalian jatuh kecelakaan yang bisa membuat cacat luka permanen, atau bahkan merenggang nyawa.
Sebenarnya saya tidak mempersalahkan anak kecil. Yang jadi masalah adalah tindakan dan perilaku yang membahayakan. Anak kecil yang polos dan baik akan saya ayomi. Anak kecil yang bodoh dan nakal harus dididik.
Bagi para pembenci atau sebagai pelaku, biarkan mereka terjebak dalam permainan mereka sendiri.
---
🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar
Posting Komentar