Refleksi Seorang Anak Yang Terbiasa Main Game Resident Evil 4
Nama anak itu Daka. Anak baik, sopan, sholat lumayan rajin, dan nilai sekolah juga tidak buruk-buruk amat. Tapi kalau bicara soal hal-hal mistis dan dunia gaib... mentalnya bukan mental manusia normal.
Sumber masalahnya sederhana: ia tumbuh besar ditemani Leon S. Kennedy dan suara pedagang misterius dari Resident Evil 4 melewati dari console game yang berkata:
> "What are ya buyin', stranger?"
Buat sebagian besar anak, masa kecil itu diisi dengan lagu pembelajaran, kartun edukatif, dan kisah moral tentang kebaikan.
Buat Daka? Masa kecilnya adalah belajar dan bersenang-senang sambil bertualang dengan console game nya yang menendang zombie pakai gerakan roundhouse kick.
MASA KECIL YANG TIDAK BIASA
Sejak SD, Daka sudah terbiasa menggunakan apa pun yang ada di sekitarnya sebagai senjata. Kayu? Bisa. Batu? Bisa. Semua alat? Tentu saja bisa.
Setiap kali ada jumpscare, reaksi anak-anak normal: menjerit panik. Reaksi Daka: menghela napas panjang sambil berkata santai:
> "Bro... aku udah kenyang jumpscare Capcom. Yang lebih serem dari kamu juga ada."
Kalau ada suara pintu berderit? Anak biasa lari. Daka justru bersiap masuk kamar sambil menyiapkan kuda-kuda di dalamnya.
Kadang orang bilang: "Berani karena nekat". Tapi Daka bukan nekat. Dia percaya hidup ini punya tombol game yang di buat-buat seperti sistem dan skenario.
INSIDEN RUMAH HANTU PASAR MALAM
Suatu malam, ada pasar malam di kota tempat Daka tinggal. Dan seperti biasa pasar malam pada umumnya, ada rumah hantu yang diklaim sebagai rumah hantu terseram se-kecamatan.
Orang-orang yang masuk biasanya teriak sampai lupa napas. Anak kecil nangis. Ibu-ibu baca ayat kursi dicampur Yasin sambil mata merem.
Tapi Daka?
Daka masuk sambil ngemut permen, tangan dimasukkan ke dalam kantong jaket. Gaya khas Leon. Jalannya pelan. Santai. Tidak ada tegang-tegangnya.
Begitu boneka pocong yang digerakkan panitia menyundul kepalanya, refleks Daka aktif.
> "LEON KICK!!!"
BRAAAAK! Kepala Pocong-nya terbang dua meter. Panitia kaget. Pengunjung di luar dengar suara gaduh. Satu operator keluar sambil berkata lirih:
> "Bos... ini anak bukan target pasar kita."
Daka lanjut jalan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa drama. Seolah baru menyelesaikan tutorial level.
Meskipun akhirnya dia di blacklist dari rumah hantu tersebut.
Operator boneka pocong duduk lemas di sudut ruangan merenungi nasib. Dia hanya manusia biasa yang mencari nafkah. Dia bekerja untuk lembaga ekonomi kreatif hantu-hantuan. Ia tidak mendaftar untuk disepak seperti zombie di Chapter 1.
KEJADIAN DI TEMPAT ANGKER
Beberapa hari kemudian, Daka pulang malam melewati sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Orang-orang bilang tempat itu angker. Katanya ada penampakan.
Tapi buat Daka yang terbiasa nge-looting barang dari laci-laci di Resident Evil, dia mengganggap bangunan kosong adalah tempat mencari item.
> "Siapa tahu ada first aid spray di dalam," katanya.
Saat di perjalanan, terdengar suara langkah pelan. cek… cek… cek…
Daka langsung mundur setengah langkah. Kaki kiri maju. Tangan kanan seolah memegang shotgun imajiner.
Lalu muncullah sosok putih. Rambut panjang. Wajah tidak jelas. Mengapung.
Reaksi orang biasa: pingsan.
Reaksi Daka:
> "YOU WANNA GET ROUNDHOUSE OR SUPLEX?!"
Hantunya pranknya freeze.
Jiwa profesionalisme prank hantu itu goyah.
Ia biasa tampil untuk manusia yang takut. Bukan manusia yang siap sparring.
Hantu prank itu akhirnya memutuskan mundur pelan-pelan. Bahkan prank hantu pun punya batas.
REFLEKSI SEORANG ANAK YANG TIDAK TAKUT HANTU
Malam itu, Daka pulang sambil bersiul sound Resident Evil 4. Bukan karena ia tidak pernah takut. Bukan karena ia merasa kuat. Bukan karena ia yakin hidup punya save point.
Tapi karena ia menyadari sesuatu yang sederhana:
Ketakutan itu bukan tentang hantu yang melayang-layang di langit-langit. Bukan tentang sosok putih yang muncul di pojokan ruangan. Bukan tentang suara langkah aneh di bangunan tua.
Ketakutan itu seringnya tumbuh di dalam diri sendiri.
Dan kadang, keberanian bukan soal berani menyerang. Bukan soal tendangan ala Leon yang membuat boneka pocong pasar malam terbang 2 meter.
Keberanian adalah kemampuan menertawakan degan tenang dari apa yang di takuti setiap orang.
KESIMPULAN
Daka tersenyum kecil.
> "Hidup ini memang bukan Resident Evil 4 sepenuhnya,"
"Tapi punya mental Leon kadang tetap berguna."
Ia membuka pintu rumah. Lampu ruang tamu menyala hangat. Tidak ada jumpscare. Tidak ada boss battle. Tidak ada merchant misterius yang tiba-tiba muncul bilang:
> "Got some rare things on sale, stranger."
Hanya kehidupan. Dengan segala keanehan, lucunya, dan misterinya.
Dan malam itu, dunia tidak terasa menakutkan. Hanya terasa... penuh hal-hal kisah untuk dipahami bagi setiap orang.
---
🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar
Posting Komentar