Hubungan dalam Konteks Modern: Nilai, Realitas, dan Pilihan Pribadi Saya

Pasangan pria dan wanita


Tulisan ini berangkat dari sebuah pengalaman yang tidak saya duga. Saya tidak sedang berdiskusi dengan ustaz, tidak sedang membaca kitab, dan tidak sedang menonton ceramah. Saya hanya menjalani hari seperti biasa — berinteraksi di sosial media. Dari interaksi itu, saya mengenal dekat satu dua dari wanita Irak tersebut. Mereka ramah, terbuka, dan kami sering berbicara lewat pesan maupun video call menggunakan bahasa inggris. Hingga suatu hari, temannya — yang bersahabat sejak kecil— menyimpan rasa kepada saya.

Pertanyaan yang kemudian mereka ajukan cukup mengejutkan: “Apakah kamu ingin menikahi kami berdua?”

Pertanyaan itu tidak main-main. Bagi mereka, poligami adalah hal yang wajar secara budaya dan agama. Bahkan dianggap solusi agar persahabatan mereka tetap utuh. Mereka tidak ingin berpisah jauh satu sama lain.


Saya terdiam beberapa detik, bukan karena bingung, tetapi karena saya tahu jawaban saya sudah sangat jelas sejak lama: saya hanya ingin satu istri dalam hidup saya.


Saya lalu menjelaskan alasan-alasan saya. Alasan yang tidak hanya lahir dari logika, tetapi dari nilai hidup, pengalaman pribadi, dan cara saya memaknai hubungan. Dan dari pengalaman itu, saya akhirnya merumuskan pandangan saya mengenai poligami, monogami, dan realitas modern yang saya jalani hari ini.



POLIGAMI DALAM ISLAM: SEBUAH KONTEKS SEJARAH, BUKAN KEHARUSAN ABADI 

Saya belajar bahwa Islam memperbolehkan poligami dengan syarat mampu berlaku adil. Tetapi seiring waktu, saya sadar bahwa ayat tentang poligami lahir dalam konteks sosial tertentu.

Di masa Nabi Muhammad, realitasnya jauh berbeda dengan dunia sekarang ini. Ketika saya membaca sejarah dengan lebih dalam, saya menemukan beberapa fakta penting:


● Zaman itu dipenuhi peperangan. Banyak laki-laki gugur, meninggalkan istri dan anak tanpa perlindungan ekonomi.


● Perempuan tidak punya kemandirian finansial. Tidak ada perusahaan modern, tidak ada kesempatan kerja luas, tidak ada jaminan sosial. Kehidupan mereka sangat bergantung pada laki-laki.


● Poligami menjadi mekanisme sosial untuk melindungi kelompok rentan. Banyak pernikahan Nabi dan para sahabat dilakukan demi melindungi janda dan anak yatim.


Dengan kata lain, poligami di masa itu bukanlah praktik syahwat, tetapi bentuk tanggung jawab sosial.

Lalu saya melihat ke zaman sekarang: dunia modern, era digital, perempuan bisa bekerja, belajar, dan mandiri. Konteksnya berubah total. Apa yang menjadi kebutuhan pada masa lalu tidak lagi menjadi kebutuhan hari ini.

Saya bertanya pada diri sendiri: Kalau konteksnya berubah, apakah saya harus tetap memaksakan praktik yang lahir dari kondisi lama?   

Jawabannya: tidak.



REALITAS SOSIAL: PERBEDAAN TIMUR TENGAH DAN INDONESIA 

Karena mengenal perempuan Irak secara langsung, saya bisa melihat dengan jelas betapa besarnya perbedaan hidup mereka dibanding perempuan di Indonesia meskipun di timur tengah sudah sangat maju.

Di Timur Tengah, banyak perempuan masih:

→ dibatasi ruang geraknya,

→ sulit memperoleh pekerjaan dan mendapatkan akses menjadi wanita mandiri,

→ diawasi ketat dalam aktivitas sehari-hari,

→ dan berada dalam struktur masyarakat yang sangat patriarkis.


Dalam kondisi seperti itu, poligami sering dianggap wajar karena hubungan sosialnya terstruktur untuk mendukung praktik itu.

Di Indonesia, situasinya sangat berbeda.

Perempuan Indonesia:

→ bebas masuk kerja tanpa memandang gender,

→ bisa masuk politik,

→ bisa memimpin perusahaan, CEO, atau pemerintah 

→ bisa menjadi pejabat negara,


bahkan bisa menjadi Independen women—Single mother dalam kebutuhan nafkah keluarga jika belum punya suami.

Tidak ada batasan budaya mayoritas yang menekan mereka untuk bergantung pada laki-laki. Perempuan di Indonesia tumbuh dengan ruang kebebasan yang luas.

Dari sini, saya memahami bahwa alasan poligami pada masa lalu tidak relevan lagi dalam realitas modern Indonesia. Tidak ada kebutuhan sosial yang memaksa mempunyai banyak istri.



PENGALAMAN PRIBADI: MENGAPA SAYA MENOLAK POLIGAMI 

Ketika kedua wanita Irak itu bertanya, saya tidak butuh waktu lama untuk menjawab. Saya sudah tahu prinsip saya: cukup satu istri saja.

Dan saya memberi mereka penjelasan dengan jujur.


1. Perasaan bisa bersifat sementara

Saya bilang kepada mereka:

> “Kadang perasaan kagum hanya bertahan sebentar, biasanya hilang dalam 1–3 bulan.”

Dan ternyata benar. temannya kemudian mengakui bahwa rasa sukanya memudar setelah beberapa waktu.

Ini memperkuat keyakinan saya bahwa pernikahan tidak bisa dibangun atas dasar rasa kagum sementara.


2. Banyak pria memakai poligami sebagai dalih nafsu

Saya tahu bagaimana cara sebagian laki-laki berpikir. Saya punya teman sendiri yang berkata bahwa poligami itu asyik, penuh sensasi, dan membuatnya merasa "lebih jantan". Padahal bagi saya, itu hanya topeng untuk menutupi hawa nafsu.

Saya tidak ingin menjadi pria seperti itu.

Saya tidak ingin memengaruhi hidup seseorang hanya karena keinginan hubungan seks sesaat.



MENGAPA SAYA HANYA INGIN SATU ISTRI 

Inilah inti dari semuanya — alasan paling pribadi, paling jujur, dan paling dalam.

Karena seperti istilah, seorang raja hanya memiliki satu ratu

Saya punya pandangan sederhana tentang hubungan:

> “Seorang raja yang kuat hanya membutuhkan satu ratu di sisinya.”


Saya ingin hubungan di mana saya dan pasangan tumbuh bersama, saling mendukung, saling menasehati, dan saling memperkuat. Saya ingin istri yang bisa menjadi partner berpikir, bukan hanya pengikut.


Saya tidak butuh “selir”. Saya ingin ratu.


Keadilan seksual adalah hal yang nyata, bukan teori, saya sangat realistis dalam hal ini. Banyak pria berbicara seolah-olah mereka mampu memuaskan banyak wanita sekaligus. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Saya memahami tubuh saya sendiri:

→ saya tidak bisa ejakulasi berkali-kali seperti mesin setiap hari, apalagi dalam seminggu.

→ setiap laki-laki memiliki hormon yang berbeda,

kan, tidak etis baru aja mulai sudah selesai dalam 3-5 menit. Yang membuat wanita juga kaget baru aja dibuka, malah tidak terasa apa-apa dan hanya meninggalkan kekurangan batin bagi si wanitanya jika si prianya jika sudah ejakulasi duluan.

Bagi saya, hubungan intim bukan hanya soal pelepasan seksual, tetapi soal physical touch dan ritme.

Saya lebih menyukai:

→ suasana yang indah,

→ musik romantis,

→ cahaya lembut,

→ Sentuhan yang mendalam,

→ proses yang pelan namun intens,


keintiman yang membuat pasangan merasa benar-benar dihargai.

Saya ingin hubungan yang meninggalkan kesan mendalam, bukan hubungan tergesa-gesa yang hanya memuaskan satu pihak.

Kalau saya punya dua atau tiga istri, bagaimana saya bisa memberi kualitas yang sama kepada semuanya? Itu sangat mustahil. 


Jadi.?

● Saya ingin istri yang independen, bukan istri yang bergantung


● Saya tidak ingin istri yang hanya diam menerima apa pun. Saya ingin istri yang bisa berdiskusi tentang hal penting, punya pandangan hidup, dan mampu berjalan berdampingan.


● Hubungan seperti itu hanya mungkin jika saya fokus pada satu orang.


● Jika ada yang menyukai sebaiknya menjadikannya saudari perempuan istri karna lambat Laun dia akan menemukan laki-laki yang tepat yang mencintai nya Sepenuhnya. bukan hanya menganggap nya tempat pelepasan nafsu semata seperti selir.


Saya juga mengatakan kepada dua wanita Irak itu:

> “seandainya kita menikah dan sahabatmu ikut menyukai ku, lebih baik kau jadikan dia saudari. Dia tidak perlu menjadi istri keduaku.”

Solusi ini jauh lebih sehat, lebih adil, dan lebih manusiawi.



ZAMAN MODERN: PERANG BUKAN LAGI FISIK, TAPI PERANG BATIN 

Saya sadar bahwa dunia tempat saya hidup hari ini bukan lagi dunia peperangan seperti masa lalu. Tidak ada perang pedang, tidak ada migrasi besar-besaran karena konflik, tidak ada perbudakan.

Perang zaman sekarang ini justru berada dalam diri sendiri:

→ perang melawan ego,

→ perang melawan nafsu yang tidak sehat,

→ perang menjaga nilai diri di tengah arus modern,

→ perang mempertahankan hubungan yang tulus di era serba instan.

Dan saya merasa bahwa komitmen pada satu pasangan justru lebih sulit — namun lebih mulia.



KESIMPULAN: MONOGAMI ADALAH PILIHAN 

Setelah banyak pengalaman, perenungan, dan interaksi dengan berbagai orang, saya semakin yakin bahwa:

Saya tidak butuh banyak istri. Saya hanya butuh satu ratu.

Saya ingin hubungan yang mendalam, lembut, matang, dan penuh makna. Saya ingin keintiman yang slow, bukan tergesa-gesa. Saya ingin komunikasi yang kuat, bukan hubungan yang tumpang tindih.

Poligami diperbolehkan dalam Islam, tetapi bukan kewajiban. Dan untuk saya pribadi, monogami adalah pilihan terbaik. Pilihan yang membuat saya tetap waras, tetap fokus, dan tetap menghargai perempuan dengan cara terbaik yang saya mampu.


Di dunia modern ini, kesetiaan bukan kelemahan — melainkan bentuk kedewasaan.

Dan saya memilih kesetiaan itu.


---

🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leon S. Kennedy dan Ada Wong: Hubungan Rumit yang Tidak Pernah Selesai

Jangan Hanya Jadi Katak di Kolam Kecil: Saatnya Tumbuh ke Danau yang Lebih Luas

Logika Mistika di Indonesia: Antara Warisan Budaya dan Minim Literasi

Mengenal Istilah Flying Monkey di Era Sekarang

Memahami Makna Cinta: Saat Logika & Intuisi Bicara

5 Tanda Lingkungan Toxic: Kenali Tandanya dan Jaga Mentalmu Sejak Dini"

“Kekuatan Logika dan Intuisi: Berpikir dalam Diam, Menemukan Jalan yang Tak Terlihat”