Semuanya Akan “Preeet” pada Waktunya: Kenyataan Pahit dari Zaman yang melihat hasilnya saja

 

Meja kerja


Ada satu kalimat yang masih aku dengar dengan nada nyelekit:

“Semuanya akan preet pada waktunya.”

Kalimat itu melekat lama di kepala. Awalnya terdengar lucu, tapi makin lama hidup di era ini, aku baru sadar — mungkin ada sedikit kebenaran getir di dalamnya.

“Preeet” adalah simbol dari sebuah ejekan, sesuatu yang padam di tengah jalan.

Dan jujur saja, terkadang aku merasa hidup di zaman yang sengaja membuat orang seperti aku preeet lebih cepat.

Dunia sekarang bukan tentang siapa yang paling tulus, tapi siapa yang paling cepat.

Bukan tentang isi, tapi tentang tampilan.

Bukan tentang proses, tapi tentang hasil yang bisa dipamerkan.

Aku sudah mencoba — menulis, berkarya, belajar memahami dunia lewat logika dan intuisi. Tapi terkadang dunia modern ini terasa seperti saringan yang terlalu sempit untuk orang-orang yang tidak ingin berpura-pura.



---

DUNIA YANG MEMPERCEPAT, TAPI TIDAK MEMAHAMI 


Zaman sekarang berjalan terlalu cepat.

Orang tidak lagi benar-benar hidup, hanya berpacu dengan waktu dan algoritma.

Semua berlomba untuk terlihat berhasil, meski hatinya sebenarnya lelah.

Kita hidup di masa di mana kedalaman dianggap tidak efisien.

Refleksi dianggap lambat.

Menulis dengan makna dianggap tidak relevan.

Padahal justru di situlah letak manusiawinya hidup — di jeda, di pemikiran, di kesunyian yang memberi ruang bagi kesadaran. Tapi dunia ini tidak memberi kesempatan untuk itu.

Kalau kamu tidak cepat, kamu ketinggalan.

Kalau kamu butuh waktu untuk berpikir, kamu dianggap gagal menyesuaikan diri.

Sementara di sisi lain, orang-orang yang memilih jalan lambat, yang menulis dari hati, yang mencipta dari batin — justru sering dipandang rendah.

Mereka dianggap kuno, tidak produktif, tidak realistis.

Padahal mereka hanya memilih jalan yang tidak disukai zaman: jalan yang sunyi tapi bermakna.



---

LUKA DARI KATA-KATA 


Lucunya, yang paling sering membuat manusia runtuh bukan kegagalan, tapi kata-kata.

Satu kalimat bisa menempel di pikiran selama bertahun-tahun.

Kata “preeet” yang diucapkan dengan tawa bisa berubah jadi gema yang menghantui pikiran.

Aku pernah mencoba menepisnya. Tapi nyatanya, kalimat itu datang lagi setiap kali aku melihat hasil yang belum seberapa.

Seolah dunia berkata, “Tuh kan, benar. Kamu cuma buang waktu.”

Dan mungkin banyak orang di luar sana yang merasakan hal yang sama.

Dihina karena belum berhasil. Diremehkan karena belum berpenghasilan.

Padahal, di balik setiap kegagalan, ada upaya yang tidak dilihat siapa pun.


Kita sering lupa, bahwa setiap orang yang tampak “biasa” hari ini mungkin sedang menanggung perjuangan luar biasa yang tidak bisa diukur dengan angka.



---

KATA “Preeet”: KETIKA NILAI DIUKUR DARI ANGKA 


Sekarang segalanya diukur dengan angka.

Jumlah tayangan, jumlah pengikut, jumlah klik, jumlah uang, dan jumlah koneksi.

Orang yang punya angka besar dianggap berhasil, meski mungkin tidak punya makna.

Sementara mereka yang bekerja dengan hati tapi tidak viral, disebut gagal.

Kita hidup di zaman di mana kualitas sering kalah dari popularitas.

Kedalaman dikalahkan oleh kecepatan.

Dan di situlah ironi hidup modern terasa begitu menyesakkan.

Tidak heran banyak orang “akan preeet” lebih cepat — bukan karena lemah, tapi karena mereka manusia.

Mereka lelah memaksa diri menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan jiwanya.



---

KEGAGALAN YANG SEBENARNYA TIDAK GAGAL 


Tapi di balik semua itu, aku mulai sadar: mungkin “hinaan, preeet” itu tidak selalu berarti hancur.

Kadang, “hinaan, preeet” adalah tanda tubuh dan pikiran sedang meminta jeda.

Sebuah cara semesta berkata: “Berhenti sebentar, ini bukan jalan mu lagi.”

Kita diajari untuk terus berlari, padahal tidak semua orang ditakdirkan menang lomba.

Ada yang ditakdirkan untuk menulis di pinggir jalan, mengamati, memaknai, mengingatkan dunia agar tidak lupa bahwa manusia bukan mesin.


Gagal itu menyakitkan, iya.

Tapi dari kegagalan juga lahir pemahaman: bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa dalam kita berproses dijalan sendiri.



---

LOGIKA WAKTU DAN INTUISI KETAHANAN 


Waktu bukan musuh, ia hanya berjalan sesuai ritmenya sendiri.

Masalahnya, kita hidup di dunia yang ingin mempercepat semua proses.

Padahal, beberapa hal butuh waktu untuk tumbuh — termasuk diri kita sendiri.

Intuisi tahu kapan harus bertahan, kapan harus berhenti.

Dan kalau hari ini terasa berat, bukan berarti hidupmu salah arah.

Mungkin kamu sedang melalui bagian yang tidak disukai siapa pun: bagian diam sebelum sesuatu berubah.

Kita sering mencari pengakuan dari luar, padahal kekuatan terbesar ada di dalam.

Menulis tanpa dibaca banyak orang tetap punya makna.

Berkarya tanpa viral tetap punya nilai.

Karena inti dari semua ini bukan soal dilihat, tapi soal tetap hidup dengan cara kita sendiri.



---

PENUTUP – MENGUBAH HINAAN JADI BAHAN BAKAR 


Jadi, mungkin benar — semuanya akan “preeet” pada waktunya.

Tapi bukan dalam arti hancur.

Melainkan meledak dalam bentuk kesadaran baru: bahwa hidup tidak bisa diukur dengan satu jenis keberhasilan.

Mereka yang menghina akan lupa pada kata-katanya sendiri.

Tapi kamu, yang tetap bertahan meski ditertawakan, diremehkan, dihina. akan menjadi bukti bahwa tidak semua yang lambat itu kalah.


“hinaan, kata Preeet” bukan tanda akhir, tapi tanda kamu masih manusia.

Kamu masih berjuang, masih mencoba memahami, dan masih punya hati di tengah dunia yang mulai kehilangan hatinya.



---

🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leon S. Kennedy dan Ada Wong: Hubungan Rumit yang Tidak Pernah Selesai

Jangan Hanya Jadi Katak di Kolam Kecil: Saatnya Tumbuh ke Danau yang Lebih Luas

Logika Mistika di Indonesia: Antara Warisan Budaya dan Minim Literasi

Mengenal Istilah Flying Monkey di Era Sekarang

Memahami Makna Cinta: Saat Logika & Intuisi Bicara

5 Tanda Lingkungan Toxic: Kenali Tandanya dan Jaga Mentalmu Sejak Dini"

“Kekuatan Logika dan Intuisi: Berpikir dalam Diam, Menemukan Jalan yang Tak Terlihat”