Laki-laki yang Tak Pernah Dewasa: Dengan kata Hobi adalah Cara Elegan Menjelaskan Jiwanya

 

Pria menutupi wajah dengan buku

“Katanya laki-laki tidak pernah dewasa.”

Kalimat itu sering muncul di obrolan santai, entah di warung kopi atau di ruang tamu. Biasanya diucapkan dengan nada bercanda, kadang dengan helaan napas kecil antara jengkel dan geli. Tapi jika didengarkan pelan-pelan, kalimat itu sebenarnya menyimpan sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang tidak sekadar tentang kelakuan kekanak-kanakan, melainkan tentang jiwa yang menolak mati sebelum waktunya.

Dari kecil, laki-laki memang diajarkan bermain. Main pedang kayu, main bola di gang, main mobil-mobilan yang bannya sering lepas tapi tetap dibanggakan. Seiring bertambahnya usia, mainannya berubah bentuk, tapi semangatnya tetap sama. Dulu menangkap dan memelihara hewan, sekarang ikut kontes kejuaraan. Dulu mobil-mobilan, sekarang motor gede. Dulu main tembak-tembakan, sekarang koleksi airsoft. Dulu main lego, sekarang rakit model kit Gundam atau susun PC gaming berlampu RGB yang seolah bicara, “aku masih bocah, tapi dengan gaji sendiri.”

Hobi, bagi sebagian laki-laki, bukan pelarian. Ia lebih seperti cara halus menjelaskan dirinya tanpa banyak kata. Ketika hidup makin rumit, pekerjaan makin menuntut, dan waktu makin terbatas, hobi menjadi satu-satunya ruang di mana mereka masih bisa menjadi diri sendiri tanpa tuntutan logika ekonomi atau sosial. Di sana mereka bebas gagal, bebas mencoba, bebas menjadi bocah lagi — tapi dengan cara yang elegan.

Aku pun tidak jauh berbeda sama seperti orang tua ku. Hanya saja “mainanku” sedikit berbeda. Aku tidak menghabiskan waktu di bengkel motor atau lapangan futsal. Aku lebih suka menyentuh hal-hal yang diam: artefak, koin kuno, dan benda-benda peninggalan sejarah.


---

BERMAIN DENGAN WAKTU 


Banyak orang tertawa kecil ketika mendengar hobiku. “Kuno,” katanya.

Mungkin benar. Tapi bagiku, mengoleksi benda sejarah bukan sekadar mengumpulkan barang tua. Ini semacam bermain dengan waktu dalam pikiran.

Ada kepuasan aneh ketika memegang logam yang sudah melewati dua abad. Logam yang mungkin dulu berpindah tangan dari seorang pedagang lada, melewati masa perang, jaman penjajahan, juga jama kemerdekaan dari tangan ke tangan melewati masa di setiap era hingga sekarang lalu entah bagaimana akhirnya sampai di tanganku.

Benda-benda itu diam, tapi mereka memberi makna dengan cara yang halus — lewat karat, guratan, dan bau logam yang khas.

Yang paling kusukai adalah koin logam bertuliskan aksara Arab gundul Melayu. Warnanya kusam, ujungnya sedikit aus. Di salah satu sisinya tertulis angka yang membuatku berhenti sejenak: 1803.

Angka yang kecil, tapi di baliknya ada kehidupan sejarah yang tersimpan.

Sebagian orang mungkin akan berkata koin itu “bertuah” atau punya energi mistis. Aku tidak berpikir begitu. Aku tidak terlalu mempercayai gaib dari benda tua — aku mencari cerita.

Cerita tentang manusia di masa lalu: apa yang mereka yakini, bagaimana mereka menjalankan kehidupan, Dan bagaimana mereka memaknai hidup dalam zaman yang belum mengenal listrik, tapi sudah penuh makna.

Setiap kali melihat koin itu, aku merasa seperti menatap cermin waktu. Ia tidak menunjukkan wajahku, tapi menampakkan wajah-wajah orang yang pernah hidup sebelumnya — dan entah kenapa, ada rasa hangat sekaligus sedih yang tidak bisa dijelaskan.


---

TAHUN 1803: SAAT SEJARAH TERCATAT 


Tahun 1803 bukan tahun biasa. Dunia, termasuk Nusantara, sedang berubah besar-besaran.

Empat tahun sebelumnya, VOC resmi bubar (1799) — perusahaan dagang Belanda yang pernah menguasai jalur rempah-rempah itu akhirnya tumbang karena korupsi dan utang. Kekuasaan mereka diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda, tapi kendali nyata di lapangan masih lemah.

Pulau Jawa sudah lebih dulu dikuasai secara administratif, tapi di luar Jawa, terutama di Sumatera, situasinya berbeda. Di sana, kerajaan-kerajaan Islam masih berdiri tegak.

Di utara ada Aceh Darussalam, di tengah Pagaruyung dan wilayah Minangkabau, di selatan Palembang Darussalam dan Jambi, semuanya punya sistem sendiri — hukum adat yang berpadu dengan syariat Islam.

Belanda menyebut orang-orang Sumatera sebagai “moeilijk te onderwerpen” — sulit ditundukkan. Bukan karena keras kepala tanpa alasan, tapi karena mereka punya logika sendiri, sistem nilai sendiri, dan martabat yang tidak bisa dibeli.

Tahun 1803 juga menandai awal Perang Padri di Sumatera Barat. Sebuah konflik antara kaum adat dan kaum agama, antara tradisi lama dan semangat pembaruan. Tapi di balik pertempuran itu, sebenarnya ada pertanyaan besar tentang identitas: apa artinya menjadi manusia yang beriman dan merdeka di tengah zaman yang penuh dengan pertumpahan darah?

Dan di situlah, aku merasa koinku berasal.

Koin bertuliskan Arab gundul itu mungkin dicetak di tengah kekacauan itu — saat orang-orang masih setia pada kepercayaan dan perdagangan mereka sendiri, sebelum Belanda benar-benar mencengkeram wilayah itu.

Tulisan Arab di koin itu bukan dekorasi, melainkan pernyataan identitas. kalimat religius seperti “La ilaha illallah” atau “Muhammad Rasulullah”  bukan cuma doa, tapi penanda keberanian untuk tetap memegang makna di tengah badai kekuasaan.


---

HOBI DAN KETEGUHAN 


Bagi sebagian orang, hobi adalah hiburan dan mainan. Tapi di mataku, hobi — terutama yang menyentuh sejarah — adalah cermin dari kehidupan manusia.

Lihatlah orang yang tekun merawat hewan peliharaan, memoles motor tua, atau membersihkan debu dari koleksi mainan atau semacamnya: semua itu bentuk kesabaran, ketekunan, dan cinta terhadap sesuatu yang tidak langsung menghasilkan uang.

Zaman sekarang segalanya diukur dengan keuntungan. Tapi hobi menolak logika itu.

Ia adalah perlawanan halus terhadap dunia yang serba cepat.

Sama seperti koin 1803 tadi — ia menolak hilang. Ia bertahan dalam diam.

Mungkin karena itu aku menyukai benda-benda tua. Bukan karena nilainya, tapi karena keteguhannya melewati waktu.

Koin itu tidak berisik, tidak pamer, tidak berubah, tapi tetap ada. Sama seperti prinsip manusia yang diam-diam menjaga keyakinan dalam hati, tanpa perlu diumbar.


---

DARI SRIWIJAYA KE DARUSSALAM 


Ketika aku mempelajari sejarah Sumatera, aku sadar satu hal: tanah ini sudah lama hidup dengan kebanggaan dan keteguhan.

Sebelum kerajaan Islam berdiri, pernah ada Sriwijaya — kerajaan besar maritim yang berjaya sejak abad ke-7. Setelah Sriwijaya runtuh, lahirlah kerajaan-kerajaan Islam seperti Aceh Darussalam, Pagaruyung, dan Palembang Darussalam.

Nama “Darussalam” sendiri berarti tanah kedamaian, tapi kedamaian itu tidak pasif — ia hasil perjuangan mempertahankan nilai.

Jadi koin 1803 itu bukan hanya benda dari masa lalu; ia simbol perjalanan panjang dari kerajaan dari peradaban Islam Sumatera, dari kapal dagang ke doa, dari logam ke makna.

Ketika aku memegangnya, aku seperti menyentuh benang merah antara agama, budaya, dan identitas manusia Nusantara yang jarang dibahas dengan lembut.

Dan di situlah aku merasa, hobiku bukan sekadar kesenangan, tapi cara elegan untuk memahami siapa aku, dan dari mana aku datang.


---

REFLEKSI: DEWASA, TAPI TETAP BERMAIN 


Mungkin benar, laki-laki tidak pernah benar-benar dewasa. Tapi mungkin juga, itu bukan hal buruk.

Karena di balik “kekanak-kanakan” itu, ada sesuatu yang dunia modern sering lupa: kemampuan untuk kagum.

Orang yang masih bisa kagum, masih bisa bahagia.

Orang yang masih mau bermain, masih punya ruang untuk memahami dirinya sendiri.

Ketika aku membersihkan koin tua, aku merasa seperti anak kecil lagi — bukan karena mainannya berharga, tapi karena ada rasa ingin tahu yang hidup kembali.

Rasa ingin tahu yang sama seperti anak-anak yang menatap langit dan bertanya, “kenapa bintang bisa bersinar?”

Itu rasa yang membuat manusia terus tumbuh, bahkan ketika dunia memaksanya menjadi dewasa terlalu cepat.

Jadi mungkin benar, hobi adalah cara elegan menjelaskan jiwa.

Di dalamnya ada kisah, ada kesetiaan, ada semangat kecil untuk hidup dengan cara sendiri.

Dan kalau kedewasaan berarti kehilangan rasa kagum, kehilangan keinginan untuk bermain, maka aku lebih memilih untuk tidak sepenuhnya dewasa.

Karena mungkin, justru di sanalah letak kematangan yang sebenarnya:

menjadi seseorang yang tetap bisa bermain, tapi tahu kapan ia ingin bermain.


---

PENUTUP: ANTARA LOGIKA DAN INTUISI 


Setiap kali aku menatap koin “La ilaha illallah” atau “Muhammad Rasulullah” — 1803 itu, aku merasa waktu berhenti sejenak.

Benda kecil itu mengingatkanku bahwa manusia selalu berusaha meninggalkan jejak — entah lewat perang, tulisan, atau sekadar logam kecil di genggaman.

Tapi dari semua itu, yang paling abadi bukan logamnya, melainkan jiwa yang menggerakkan tangan pembuatnya.

Mungkin sama seperti hobi-hobi kita hari ini. Kita mengoleksi, memperbaiki, merawat — bukan karena benda itu penting bagi dunia, tapi karena di dalamnya kita menemukan diri sendiri.


Jadi, ketika seseorang berkata,

> “Laki-laki tidak pernah dewasa.”


Aku akan tersenyum dan menjawab pelan,

> “Mungkin benar. Tapi justru di situlah kami belajar memaknai hidup — lewat hal-hal kecil yang membuat kami terus merasa hidup.”


---

🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leon S. Kennedy dan Ada Wong: Hubungan Rumit yang Tidak Pernah Selesai

Jangan Hanya Jadi Katak di Kolam Kecil: Saatnya Tumbuh ke Danau yang Lebih Luas

Logika Mistika di Indonesia: Antara Warisan Budaya dan Minim Literasi

Mengenal Istilah Flying Monkey di Era Sekarang

Memahami Makna Cinta: Saat Logika & Intuisi Bicara

5 Tanda Lingkungan Toxic: Kenali Tandanya dan Jaga Mentalmu Sejak Dini"

“Kekuatan Logika dan Intuisi: Berpikir dalam Diam, Menemukan Jalan yang Tak Terlihat”