Dari Luka ke Logika
JATUH BANGUN DAN AWAL TERCIPTANYA
BLOG A-M RA.
Aku tidak datang membawa kisah sukses besar,
Bukan pula kisah indah penuh prestasi. Tapi aku ingin berbagi — tentang perjalanan hidup yang membentukku menjadi seperti sekarang. Sebuah kisah yang mungkin tak asing bagi banyak orang: tentang jatuh, bangkit, jatuh lagi… lalu mencoba bangkit untuk kesekian kalinya.
Kita mulai dari masa remaja. Saat itu, aku bukan tipe anak yang terlalu banyak berpikir. Aku suka nongkrong, kebut-kebutan motor, dan kadang menyentuh hal-hal yang tak patut dicontoh: minuman keras, kenakalan jalanan. Gaya hidup ala gangster yang aku banggakan saat itu justru membawaku pada tragedi: sebuah kecelakaan motor akibat mabuk. Luka itu bukan hanya fisik — tapi mental. Dan baru kusadari, itulah awal dari perjalanan penuh luka dan pelajaran.
Tentu saja, seperti remaja lainnya, aku juga mengenal cinta. Tapi mungkin aku terlalu menikmati rasa penasaran itu. Bukan juga aku pria tampan dan Diam-diam, aku menjalin hubungan dengan empat perempuan sekaligus. Mungkin terdengar nakal — atau bahkan terbilang brengsek bagi sebagian orang. Tapi saat itu aku merasa sedang “menjalani hidup”. Hingga akhirnya, dari empat hati yang ku permain-mainkan, dan akhirnya aku menikahi satu dari empat perempuan tersebut. Kami menikah, dan tak lama kemudian, Tuhan mempercayakan seorang putri kecil nan cantik dan cerdas untuk lahir dari rahimnya.
Tapi kebahagiaan kadang cuma mampir sebentar. Pernikahan kami tak bertahan lama. Kami berpisah. Dan saat itu, aku berada di titik paling gelap dalam hidupku. Aku tak ingin keluar rumah, tak ingin bicara dengan siapa pun. Depresi, stres, bahkan hampir menyerah pada hidup. Aku hanya duduk, menatap dinding, bertanya dalam hati: “Aku ini siapa? Mau ke mana?”
Tuhan memang punya cara misterius untuk menegur. Aku ditawari pekerjaan jaga malam di sebuah proyek jangka pendek. Tidak bergengsi, tidak pula menjanjikan masa depan. Tapi entah kenapa, aku menerima tawaran itu. Mungkin karena bosan terus tenggelam dalam luka. Mungkin karena logika dan intuisiku mulai kembali bekerja. Dari sana, hidupku perlahan berubah. Aku mulai berpikir: “Sampai kapan aku hidup begini?”
Tentu saja, prosesnya tak mulus. Aku mencoba membangun hubungan lagi — dengan beberapa perempuan. Dari janda sampai gadis muda. Tapi luka masa lalu membuatku keras kepala, dominan, egois. Sebagian dari mereka juga tak kalah toxic nya. Hasilnya? Gagal. Lagi dan lagi. Sampai akhirnya aku berhenti dulu untuk masalah hubungan dan percintaan.
Dan Aku mencoba cari uang dari berkebun, beternak, berdagang. Dan Gagal lagi. Aku mencoba jadi karyawan rumah makan, toko, apapun. Tapi tidak pernah bertahan lama. Bukan karena aku malas, tapi karena aku merasa itu bukan passion-ku. Hidupku seperti jalan tanpa ujung. Tapi entah kenapa, aku tetap terus berjalan.
Hingga pada suatu malam, aku duduk diam. Lalu aku ingat sesuatu: sejak kecil, aku suka menulis. Suka membaca. Suka memahami hal-hal yang tak semua orang lihat. Dan di titik itulah, muncul ide yang mengubah arah hidupku: membuat blog.
Bukan sekadar tempat curhat. Tapi wadah untuk berbagi. Tempat menyatukan luka, logika, intuisi, dan harapan. Blog ini aku ciptakan bukan karena aku ahli, tapi karena aku ingin menyampaikan sesuatu. Dengan tulisan. Dengan jiwa. Dengan kejujuran.
Aku tahu, aku bukan pembicara hebat. Tapi melalui kata-kata dari tulisan, aku ingin kalian — para pembacaku — tahu bahwa kalian tidak sendiri. Bahwa kalian yang merasa terpuruk, yang bingung dengan hidup, yang gagal berkali-kali, masih bisa bangkit dan menciptakan sesuatu dan bermakna.
Blog ini bukan hanya tentang aku. Tapi juga tentang kalian. Yang diam-diam ingin bangkit. Yang pelan-pelan sedang menyusun langkah.
---
Pesanku…
Gagal bukan berarti kamu lemah.
Gagal bukan berarti kamu bodoh.
Gagal itu karena kamu terlalu ambisius di awal… dan menyerah terlalu cepat.
Hidup memang tidak selalu mengangkatku.
Tapi aku belajar berjalan sendiri.
Diam-diam. Pelan-pelan. Tapi pasti.
Artikel ini semoga bisa membantu dan menyembuhkan mu.
---
🖋 A-M Ra
Pendiri blog “Logika dan Intuisi Tersembunyi” — dan penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar