Aku Sendiri jadi Malu Karena Mereka Juga Indonesia
Ada rasa sesak di dada ketika melihat kenyataan bahwa bangsa ini, yang katanya menjunjung tinggi persatuan, justru berulang kali tergelincir ke dalam tragedi yang menyayat hati. Demo dan aksi massa memang sah dalam sebuah negara demokrasi. Tetapi ketika aksi itu salah sasaran, berubah menjadi kekerasan, penjarahan, bahkan pelecehan, maka semua kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah luka, trauma, dan rasa malu.
Malu karena sebagian dari kita menganggap kekerasan bisa dibenarkan dengan dalih kemarahan. Malu karena masih ada yang menganggap saudara sebangsa hanya karena berbeda ras, agama, atau etnis, pantas dijadikan kambing hitam. Dan lebih dalam lagi, yang diserang justru mereka yang sama sekali tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa: warga Tionghoa Indonesia, yang sejak lama menjadi bagian dari tanah air ini.
Tragedi 1998 seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Ribuan orang kehilangan harta benda, banyak perempuan menjadi korban pelecehan, dan trauma itu masih membekas sampai hari ini. Luka itu seharusnya membuat kita lebih bijak agar tidak mengulangnya. Tetapi mengapa, di tahun-tahun berikutnya, pola yang sama masih sering terjadi?
Setiap kali ada ketidakpuasan politik, ada potensi amarah massa yang diarahkan pada etnis Tionghoa. Seakan-akan mereka bukan bagian dari bangsa ini. Padahal, mereka lahir di sini, tumbuh di sini, dan mati pun akan dikubur di tanah yang sama. Sama persis dengan kita semua.
Apakah mereka bersalah? Apakah mereka pantas disalahkan hanya karena berbeda wajah atau tradisi? Sama sekali tidak. Yang bersalah adalah mereka yang mengajarkan kebencian dan mengobarkan api massa demi kepentingan politik atau kepuasan pribadi.
TIONGHOA SUDAH MENJADI BAGIAN INDONESIA
Kita tidak bisa memungkiri bahwa warga Tionghoa memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga kini, banyak tokoh Tionghoa ikut membangun negeri ini. Ada yang menjadi pahlawan, ada yang berjuang di bidang ekonomi, ada pula yang berkarya di seni, ilmu pengetahuan, dan budaya.
Mereka sama-sama membayar pajak, sama-sama menempuh pendidikan, sama-sama bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Mereka juga ikut merasakan macet, banjir, harga naik, bahkan ikut kecewa dengan pemerintah yang sama seperti kita.
Lalu mengapa mereka harus disalahkan? Mengapa mereka harus menerima pukulan, ejekan, bahkan pelecehan, hanya karena ada pihak yang ingin memanfaatkan situasi?
DEMOKRASI ITU HAK
Aku tidak menolak demo. Justru demo adalah hak rakyat yang harus dijaga. Kita berhak marah ketika pemerintah salah. Kita berhak menuntut keadilan ketika hukum pincang. Tetapi demo yang benar adalah demo yang jelas tujuannya, yang terukur aspirasinya, dan tetap menjunjung nilai kemanusiaan.
Begitu demo berubah menjadi penjarahan toko, pembakaran rumah, atau pelecehan terhadap perempuan, saat itu juga nilai perjuangannya runtuh. Tidak ada lagi alasan mulia. Yang ada hanya aib yang menodai bangsa.
Dan yang lebih menyedihkan, ketika korban kekerasan itu adalah warga Tionghoa, luka lama kembali terbuka. Seolah-olah kita tidak pernah belajar dari sejarah.
ISLAM TIDAK MENGAJARKAN KEBENCIAN
Sebagai seorang Muslim, aku semakin malu. Karena agama yang aku anut tidak pernah mengajarkan kekerasan terhadap yang tidak bersalah. Islam justru menekankan rahmatan lil alamin — kasih sayang bagi seluruh umat.
Rasulullah SAW sendiri melarang keras perlakuan zalim terhadap siapa pun, termasuk non-Muslim. Lalu bagaimana bisa ada orang yang mengaku berjuang atas nama agama, tetapi tega menyerang saudara sebangsa yang bahkan tidak punya kaitan dengan masalah politik yang sedang diperdebatkan?
Jika benar ingin menegakkan kebenaran, lakukanlah dengan cara yang benar. Bukan dengan menambah luka orang lain.
KARENA MEREKA JUGA INDONESIA
Aku menulis ini dengan hati yang berat. Karena aku tahu, di luar sana masih banyak saudara Tionghoa yang menyimpan trauma. Mereka berusaha melupakan dan menjaga jarak, karena bayangan masa lalu terus menghantui. Mereka ingin hidup normal, bekerja, menyekolahkan anak-anaknya, tanpa harus takut jika suatu hari amarah massa kembali meledak.
Aku jadi speechless. Karena di saat aku menikmati kebebasan sebagai seorang Indonesia, mereka masih merasa seperti orang asing di tanah sendiri. Padahal seharusnya, mereka berhak merasa aman.
Dan aku malu karena diamnya sebagian dari kita juga membuat luka itu semakin dalam.
SAATNYA BERUBAH
Bangsa ini tidak akan pernah maju kalau kita terus terjebak dalam pola lama: mencari kambing hitam dari kelompok yang lemah. Kita harus berani jujur bahwa masalah bangsa ini ada pada sistem, pada keserakahan penguasa, pada ketidakadilan hukum, pada kesenjangan sosial. Bukan pada ras atau etnis tertentu. Kita harus belajar bahwa musuh kita bukan warga Tionghoa, bukan minoritas agama, bukan orang yang berbeda wajah atau budaya. Musuh kita adalah ketidakadilan, kebodohan, dan kebencian yang diwariskan tanpa pikir panjang.
PENUTUP
Aku berharap, tulisan ini bisa menjadi pengingat kecil bahwa kita semua adalah satu bangsa. Warga Tionghoa bukan orang asing. Mereka lahir di sini, tumbuh di sini, dan mati pun di tanah air yang sama. Mereka adalah Indonesia, sama seperti aku dan kamu.
Jika kita ingin berdemo, mari berdemo dengan benar. Teriakkan aspirasi kepada yang berkuasa, bukan kepada mereka yang tak bersalah. Lawan ketidakadilan dengan cara yang beradab, bukan dengan cara yang justru mencoreng wajah bangsa. karena mereka juga Indonesia.
Dan aku berharap, suatu hari nanti, kita bisa benar-benar hidup berdampingan sebagai bangsa yang tidak saling mencurigai, saling menyalahkan, apalagi saling melukai.
---
🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.


Komentar
Posting Komentar