Menyebut Setan yang Tak Puasa, Kau Menunggangi yang Tak Sah di Malam Ramadhan

Sorotan lirikan mata tajam


Di sebuah sudut kota yang tampak religius di permukaan, ada sekelompok orang yang paling rajin berbicara tentang moral. Mereka berkumpul selepas waktu berbuka, bukan untuk merenung, tapi untuk mengulas kehidupan orang lain seperti komentator tiktok. Topik favorit mereka sederhana: siapa yang tidak berpuasa, siapa yang terlihat depan umum, siapa yang patut dicurigai imannya. Kata-kata mereka rapi, tegas, dan sering terdengar seperti vonis.

“Dia tidak puasa,” bisik seseorang dengan nada menghakimi.

“Pantas hidupnya begitu,” sambung yang lain, seolah nasib orang bisa dijelaskan dengan satu tuduhan.

Di siang hari, mereka adalah wajah ketekunan. Menahan lapar, menahan dahaga, menjaga ekspresi agar tampak khusyuk. Di media sosial, mereka membagikan nasihat, potongan kalimat bijak, dan foto hidangan sederhana yang seolah menjadi simbol pengendalian diri. Mereka tampak seperti benteng nilai. Tak tergoyahkan. Tak tercela.

Namun malam hari memiliki kebiasaan yang aneh: ia membuka apa yang siang hari disembunyikan.

Di balik pintu yang tertutup, sebagian dari mereka bertemu bukan untuk moral dan ibadah. Mereka bertemu untuk tubuh yang saling mencari, untuk nafsu yang diberi nama seks. Ada yang belum sah dalam ikatan hanya dalam hubungan pacaran, tapi bertingkah seolah komitmen hanyalah formalitas yang bisa ditunda. Ada yang sudah memiliki pasangan, namun memilih jalan sembunyi yang penuh perselingkuhan. Kata “setia” diganti dengan “kesempatan”. Kata “batas” diganti dengan “alasan”.

Satunya siap mengangkang dan satunya siap menunggang. Mereka menunggangi kenikmatan sambil menunggangi citra kesalehan. Siang menahan lapar, malam melepas nurani. Ironinya begitu telanjang, tapi mereka ahli dalam memakaikan pakaian pembenaran. “Ini urusan pribadi,” kata mereka, seakan pengkhianatan bisa diperkecil menjadi rahasia yang tidak berdampak. Padahal setiap rahasia punya gema, dan gema itu selalu menemukan jalan kembali.

Ada seorang dalam kelompok yang paling keras suaranya saat siang. Ia mudah menunjuk, mudah menilai, mudah menempelkan label pada orang lain. Ia berbicara tentang kemurnian niat dengan kalimat yang disusun rapi. Namun malam hari, ia berjalan dengan langkah tergesa, menuju pintu yang tak pernah ia akui di siang hari. Di sana, ia bukan menjaga nilai. Ia hanya manusia yang mengizinkan keinginan melepaskan nafsu, lalu menyebutnya kebutuhan biologis.

Ada pula seorang perempuan yang paling halus tutur katanya ketika membela tradisi. Ia menasihati banyak orang tentang kesabaran dan kehormatan. Tapi dibalik layar yang tak pernah diketahui, ia menukar kesetiaan dengan perhatian yang sementara. Ia mengeluh tentang kesepian, lalu menggunakan kesepian itu sebagai izin. Ia tahu batas, tapi memilih menegosiasikannya.

Yang paling menyedihkan bukanlah pelanggaran itu sendiri. Yang paling menyedihkan adalah keberanian mereka untuk tetap menghakimi orang lain setelahnya. Seolah-olah siang hari mampu mencuci malam. Seolah-olah ritual bisa menebus pengkhianatan tanpa pertobatan. Seolah-olah reputasi lebih penting daripada kebenaran.

Di antara mereka, ada juga yang hanya menjadi penonton. Mereka tahu, mereka melihat, mereka mengerti. Namun mereka diam. Bukan karena kebijaksanaan, melainkan karena kenyamanan. Mereka menikmati posisi aman: ikut menilai di siang hari, ikut bungkam di malam hari. Dalam diam itu, kemunafikan menemukan rumah yang hangat.

Kisah ini bukan tentang siapa paling berdosa. Ini tentang bagaimana manusia bisa memecah dirinya menjadi dua dan tetap merasa suci. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk terlihat benar. Di sisi lain, ada keinginan untuk bebas dari konsekuensi. Ketika keduanya bertemu tanpa kejujuran, lahirlah topeng. Topeng yang dipakai siang hari untuk menutupi wajah malam.

Manusia jarang jatuh karena tidak tahu mana yang benar. Mereka jatuh karena ingin tetap merasa benar ketika memilih yang salah. Di situlah kemunafikan lahir, bukan dari kebodohan, tetapi dari kebutuhan mempertahankan citra diri.

Puasa, jika dipahami dengan jernih, adalah latihan untuk menyatukan diri. Menyatukan niat dan tindakan, menyatukan ucapan dan pilihan. Ia bukan sekadar jeda dari makan, tetapi jeda dari kebiasaan merendahkan orang lain. Ia bukan panggung untuk menilai, tetapi cermin untuk melihat. Namun cermin hanya berguna jika berani menatap diri sendiri.

Perselingkuhan merusak lebih dari satu hubungan. Ia merusak kepercayaan terhadap makna komitmen itu sendiri. Ia mengajarkan bahwa janji bisa ditunda, bahwa kesetiaan bisa dinegosiasikan, bahwa kebenaran bisa dipilih sesuai kenyamanan. Dalam masyarakat yang terbiasa dengan pelanggaran yang disembunyikan, kejujuran terasa seperti kelemahan. Padahal justru kejujuran adalah satu-satunya kekuatan yang tidak memerlukan penonton.

Di kota itu, pagi selalu datang dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Orang-orang kembali mengenakan kesalehan mereka seperti pakaian yang disetrika rapi. Mereka kembali berkumpul, kembali berbisik, kembali menunjuk. Siklus itu berulang, bukan karena mereka tidak tahu, tetapi karena mereka tidak ingin tahu. Pengetahuan menuntut perubahan, dan perubahan menuntut keberanian.

Ada satu hal yang tidak bisa dipalsukan terlalu lama: ketenangan batin. Ia bukan hasil dari pujian, bukan hadiah dari citra. Ia lahir dari keselarasan yang pelan tapi konsisten. Ketika siang dan malam tidak saling bertentangan, ketika nilai tidak hanya diucapkan tetapi dijalani, ketika komitmen tidak hanya diumumkan tetapi dijaga. Ketenangan itu sunyi, tapi kokoh.

Cerita tentang mereka adalah cermin bagi siapa saja yang pernah merasa lebih benar dari orang lain. Bukan untuk mengutuk, melainkan untuk mengingatkan: kesalehan tanpa integritas hanyalah pertunjukan. Ia mungkin memukau, tapi tidak menyembuhkan. Ia mungkin dipuji, tapi tidak menguatkan.

Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah seberapa keras seseorang menilai orang lain, melainkan seberapa jujur ia hidup dengan dirinya sendiri. Siang dan malam bukan dua panggung berbeda. Keduanya adalah satu kehidupan yang sama, dengan satu hati yang sama, dan satu tanggung jawab yang sama.

Untuk pembaca Logika dan Intuisi Tersembunyi, kisah ini bukan seruan kemarahan, melainkan undangan untuk melihat lebih dalam. Bahwa menahan lapar mudah dibanding menahan dorongan untuk merasa paling suci. Bahwa menjaga citra ringan dibanding menjaga komitmen. Dan bahwa manusia tidak runtuh karena kekurangan.

Jika ada yang benar-benar layak ditahan, mungkin itu bukan hanya makan dan minum, tetapi menahan hasrat untuk saling menghakimi dan tindakan untuk berkhianat. Tanpa itu, puasa hanya bentuk.

Puasa seharusnya menyatukan manusia dengan dirinya sendiri. Namun ketika siang dan malam saling bertentangan, yang tersisa hanyalah ritual tanpa arah.

Manusia tidak hancur karena dosa yang terlihat, tetapi karena kebohongan yang terus ia rawat tentang dirinya sendiri.

Menahan lapar itu mudah. Menahan keinginan untuk merasa paling suci, itulah yang jarang berhasil dilakukan.

---

🖋 A-M Ra. Pendiri blog Logika dan Intuisi Tersembunyi — penyintas luka yang sedang membangun masa depan lewat tulisan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leon S. Kennedy dan Ada Wong: Hubungan Rumit yang Tidak Pernah Selesai

Jangan Hanya Jadi Katak di Kolam Kecil: Saatnya Tumbuh ke Danau yang Lebih Luas

Logika Mistika di Indonesia: Antara Warisan Budaya dan Minim Literasi

Mengenal Istilah Flying Monkey di Era Sekarang

Memahami Makna Cinta: Saat Logika & Intuisi Bicara

5 Tanda Lingkungan Toxic: Kenali Tandanya dan Jaga Mentalmu Sejak Dini"

“Kekuatan Logika dan Intuisi: Berpikir dalam Diam, Menemukan Jalan yang Tak Terlihat”